rupa seni

ruang_resah_gelisah

Selasa, 05 Mei 2009

"Sang Maha Guru"

Kehidupan manusia tidak pernah lekang dari yang namanya cobaan. Baik yang berupa kenikmatan/ kemudahan ataupun penderitaan/ kesusahan. Bahkan hidup itu sendiri sebenarnya merupakan sebuah cobaan. Kemudahan atau kesulitan; kenikmatan atau penderitaan pada esensinya adalah sama. Objeknya sama, tetap, dan tidak berubah. Subjek adalah factor dominant yang menjadikan sesuatu itu menjadi sebuah kesuksesan atau sebaliknya menjadi sebuah kegagalan.keberhasilan maupun kegagalan seseorang sebenarnya sangat tergantung bagaimana ia menghadapi cobaan tersebut. Sering sekali orang yang berhasil adalah orang yang mengerti, memahami, dan dapat mengambil hikmahnya. Sedangkan orang yang gagal seringkali adalah orang yang tidak mengerti dan memahami, atau bahkan mungkin memang tidak mau mengerti dan memahaminya. Hal inilah yang menjadi permasalahan. Ketika cobaan itu datang dengan apapun bentuknya, kebanyakan kita hilang akal dan tidak bisa menerima kondisi tersebut, yang pada akhirnya kita akan berfikiran buruk (baca: suuzhon) kepada Yang Maha Segalanya.
Kekecewaan itu bisa terjadi kita tidak sadar akan kekuasaan Allah atas diri kita sebagai mahluk. Karena kesadaran akan kondisi tersebut dapat melahirkan sebuah keridhaan. Keridhaan yang tumbuh berdasarkan keyakinan bahwa Allah adalah Rabb yang Maha Terpuji dan Maha Suci yang tidak akan pernah menzalimi hambanya. Justru yang sebenarnya terjadi adalah, manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri. ” Allah tidak membebani sesorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya....(Al Baqarah:286)
Sebenarnya, Allah selalu mendatangkan kebaikan kepada manusia. Namun sering kali manusia terlalu angkuh dengan dirinya sendiri. Manusia sering merasa apa yang mereka inginkan adalah sebuah kebaikan dan kebenaran, dan cobaan itu menjadi penghalangnya. Padahal Allah lebih mengetahui apa yang baik dan buruk bagi manusia. Namun, sebuah keniscayaan bahwa manusia merupakan mahluk yang lemah, apalagi bila dalam kondisi yang labil. Oleh karen itu, sudah sewajarnya bila kita berdoa kepada Allah agar dilindungi dan memohon petunjuk agar mampu memahami bahwa cobaan sebagai sarana pendidikan Allah kepada manusia untuk menjadi lebih baik. Karena tidak ada daya upaya manusia tanpa kehendak Allah.
Hal yang sangat menarik adalah saat kita memohon pemahaman langsung kepada yang memberikan pendidikan (baca: cobaan) yaitu Allah. Padsahal banyak orang yang telah mengajarkan ilmu kepada kita, namun orang tersebut tidak mampu memberikan pemahaman kepada kita. Banyak orang yang mengajarkan agama tetapi tidak mampu memberikan keimanan. Banyak yang mengajarkan sholat namun tidak mampu membrikan kekhusukan. Telah banyak nasehat yang diberikan, namun tidak mampu memberikan hidayah bagi siapapun. Karena yang mampu memberikan itu semua hanyalah Allah semata. Guru bagi semua dan dalam bidang segalanya. Maka, hanya kepada Allahlah sepantasnya manusia memohon dan berguru, apapun itu......
(pengembangan dari artikel Arina Syukria dalam Tarbawi:195)

Label:

4 Komentar:

Pada 11 Juni 2009 pukul 18.34 , Blogger Unknown mengatakan...

Semacam sepakat Bro.. eh, Akhy..!!Yarhamukalloh..

 
Pada 11 Juni 2009 pukul 18.42 , Blogger Unknown mengatakan...

Hmmm..yang dapat mengambil hikmah segala sesuatu hanyalah orang-orang yang berfikir..ya gak Bro? mohion bimbingannya.jalan ini teramat pendek, dan dekat..

 
Pada 21 Juni 2009 pukul 19.38 , Blogger Unknown mengatakan...

Sibuk Pak...???

 
Pada 17 Oktober 2009 pukul 15.34 , Blogger OUTSIDER WONOGIRI mengatakan...

setuju pak,cz skrng ini saya lg ada cobaan berat bgt,smoga SANG MAHA GURU berkehendak memberikan pemahaman kpd saya amin.....trima ksh

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda